Kami pemuda merdeka beramartabat

Agustus 6, 2008 at 3:48 am (HUMANIORA, OPINI, POLITIK dan HUKUM)

“Demi Masa, sesungguhnya manusia itu benar – benar berada dalam kerugian. Kecuali orang – orang yang berbuat dan mengerjakan kebenaran dan nasihat – menasihati tentang kebenaran dan sabar dalam mengerjakan kebenaran”.(Al-Ashr)
Segala yang terlanjur terjadi pada bangsa ini adalah sebuah peringatan dan teguran. Disinilah kita ditegur oleh Allah sebagai orang yang merugi. Agar semua tidak menjadi sebuah kerugian maka kita evaluasi dan mencari problem solving seperti yang diungkapkan pada ayat ketiga tersebut.
Pada tanggal 17 agustus 2008 yang akan datang adalah hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bangsa Indonesia yang diwakili oleh putra terbaiknya Soekarno-Hatta memproklamirkan diri sebagai bangsa yang merdeka. Pada tanggal ini beragam aktivitas ditunjukkan oleh bangsa Indonesia untuk menunjukan kegembiraannya. Beragam lomba dan acara – acara di media elektronik dan media tulis dengan kreativitas masing – masing menunjukkan kegembiraan atas kemerdekaan yang diperoleh bangsa ini. Mulai dari konser band seperti coklat dengan lagu andalannya “Bendera” kerap kali dinyanyikan di momen ini. Dan berbagai kritikan Indonesia sebagai bangsa yang merdeka akan di paparkan dengan berbagai sudut pandang di media cetak manapun.
Tiada kata : tidak berhasil, tidak ada ungkapan perjuangan sia – sia dan tiada kata gugur sia – sia. Tetesan darah, keringat dan air mata serta jiwa raga para pejuang, para bapak dan ibu bangsa, para alim – ulama semuanya tertebus dengan kata “Kemerdekaan”. Ini lah yang patut kita syukuri, seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD’45 “Kemerdekaan bangsa Indonesia adalah rahmat dari Allah SWT”.
Begitu besar pengorbanan nenek – nenek dan kakek – kakek moyang kita untuk Kemerdekaan. Begitu sayangnya mereka kepada generasi setelah mereka. Mereka tidak menginginkan kita merasakan beban penderitaan, sakit dan susahnya terjajah bangsa lain, seperti yang mereka rasakan. Dalam sebuah momen Soekarno dengan Kalimat bijaknya berseru kepada pemuda “Kutitipkan bangsa ini Padamu”.
Titipan dalam Islam adalah dimaknai sebagai amanah dan amanah dalam anutan kita adalah tanggungjawab. Diartikan bahwa anak muda tanah air yang merasakan kemerdekaan tidak hanya menanggung enak dan manisnya saja. Akan tetapi juga harus menjawab mau kemana bangsa ini mau dibawa. Mau diapakan amanah ini. Ditanggung atau dijawab, dikotori atau dijaga?!!
Tidak sedikit anak bangsa yang hanya menanggung enaknya saja. Berbagai momen politik, dengan melihat peluang yang ada mencari posisi untuk lezatnya bangku jabatan. Dan kadang hal tersebut dilakukan dengan menginjak kepala orang lain untuk berkarier. Apakah mereka lupa amanah pendahulu mereka. Apakah mereka lebih senang menari di atas penderitaan sodara sendiri. Apakah mereka ini yang menamakan diri mereka “bangsa yang berbudi luhur?”

Dalam sebuah koran memaparkan mengapa bangsa kita sangat sulit mencapai pembangunan manusia seutuhnya dan pemerataan pembangunan. Salah satunya adalah sulitnya mencapai stabilitas di segala bidang. Budaya menginjak kepala sodara sendiri untuk mengamankan posisi pribadi sudah menjadi budaya milenium saat ini. Apakah budaya tepo seliro, musyawarah dan gotong royong sudah tidak ada lagi. Apakah mungkin perlu merasakan arti penjajahan kembali untuk mengguyupkan bangsa ini. Padahal sering kali diadakan diskusi di berbagai acara tentang neokolonialisme. Yakni bentuk penjajahan baru. Tidak berupa penjajahan fisik, namun penjajahan pemikiran, budaya dan sendi – sendi etis masyarakat. Mampukah generasi muda kita menolak segala penjajahan budaya dan moral atau malah larut di dalamnya?!!!! Post u’r comment!!

Tulis sebuah Komentar